Sabtu, 14 Juli 2012

Berjilbab Tapi Kok Merokok?

Salah satu fenomena yang sangat memperihatinkan saat ini adalah semakin banyaknya kaum perempuan yang merokok. Bahkan, menurut situs tempo.co, jumlah perokok perempuan meningkat empat kali lipat pada rentang waktu 1995-2007. Tahun 2007, ada 4,8 juta perempuan perokok dari yang sebelumnya hanya 1,1 juta perokok pada tahun 1995. Dari banyak perempuan yang merokok itu, bukan tidak mungkin ada yang sudah menutup auratnya. Namun, mereka yang sudah menutup aurat itu belum mampu menghentikan kecanduannya merokok. Sehingga, akhirnya kita pun menyaksikan sebuah tabrakan kepentingan antara yang baik dan yang buruk. Jilbab tetap dikenakan dan rokok pun tetap dihisap dan asapnya tetap dihembuskan.

Sebelum terjadi polemik berkepanjangan, mari sama-sama kita dudukkan persoalan ini pada tempatnya. Banyak orang yang mengganggap bahwa para perempuan berjilbab itu tingkat kesuciannya sudah setingkat di bawah malaikat bersayap atau para bidadari dalam surga. Sehingga, banyak diantara mereka yang terkejut ketika menyaksikan ada perempuan berjilbab yang melakukan hal-hal yang kurang baik seperti merokok. Anggapan itu pula yang membuat banyak muslimah enggan berjilbab karena merasa diri belum cukup "suci" untuk melakukan kewajiban itu. "Sebaiknya saya menjilbabi hati saya dulu deh" demikian kata sebagian dari mereka.

Jilbab, hijab dan menutup aurat adalah kewajiban bagi kaum muslimah. Hijab adalah bagian dari syariat Islam yang harus dilaksanakan oleh para penganut agama tersebut. Hijab adalah masalah lahiriah yang dapat dilihat dengan mata kepala manusia. “Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” demikian firman Allah SWT dalam QS. Al Ahzab: 59. Dalam hadits yang diriwayatkan dari Aisyah RA, dikisahkan bahwasanya Asma` binti Abubakar telah masuk ke ruangan Nabi SAW dengan berpakaian tipis/transparan, lalu Rasulullah SAW berpaling seraya bersabda : "Wahai Asma` sesungguhnya seorang wanita itu apabila telah baligh (haidl) tidak boleh baginya untuk menampakkan tubuhnya kecuali ini dan ini (Rasulullah menunjuk muka dan telapak tangan)." (HR. Abu Dawud)

Adapun hati atau qolbu adalah masalah batin yang tidak tercapai oleh mata kepala manusia. hanya Allah SWT dan manusia itu sendirilah yang tahu isi hatinya. Bahkan, yang mampu membolak balik hati hanya Allah SWT, bukan manusia itu sendiri. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya semua hati manusia berada di antara dua jari dari jari-jari ar-Rahman (Allah Ta’ala), seperti hati yang satu, yang Dia akan membolak-balikkan hati tersebut sesuai dengan kehendak-Nya”, kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berdoa: “Wahai Allah Yang membolak-balikkan hati (manusia), palingkanlah hati kami untuk (selalu) taat kepada-Mu" Hadits Sahih Riwayat Muslim (no. 2654). Allah SWT hanya akan meneguhkan hati mereka yang rajin menyucikan jiwanya melalui proses tazkiyatun nafs dan yang sungguh-sungguh mempelajari dan mengamalkan syariatNya dalam kehidupan. Termasuk di dalam pengamalan syariat itu adalah dengan berhijab dan menutup aurat. Sehingga, amat sangat mungkin terjadi adanya muslimah yang sudah berhijab atau berjilbab namun masih suka merokok atau melakukan hal-hal yang kurang baik lainnya. Semua itu memang manusiawi namun bukan berarti tidak perlu diperbaiki.

Maka, bisa jadi ada seorang muslimah yang sebelum berhijab sudah merokok. Dia bisa saja merokok untuk mengalihkan perhatiannya dari persoalan hidup sehari-hari atau karena pergaulan. Saat sudah berhijab, bukan lantas dia otomatis bisa meninggalkan kecanduan merokoknya. Orang itu masih harus mengatasi kecanduan tersebut, bisa dengan konseling, terapi-terapi tertentu seperti EFT (Emotional Freedom Technique) atau dengan memaksa diri untuk tidak merokok. Belum lagi masalah-maasalah psikologis lainnya yang juga harus diselesaikan, yang mendorong orang itu menjadi perokok. Namun yang jelas, sambil berusaha mengatasi semua masalah tersebut, si muslimah tetap bisa dan tetap harus berhijab untuk menutup auratnya sesuai tuntunan syariah. Tidak perlu menunggu sampai semua masalah teratasi baru berhijab karena hidup itu sendiri kumpulan persoalan dan masalah. 
 
Manusia adalah makhluk yang kompleks karena meliputi tubuh, jiwa dan pikiran. Manusia yang baik bukanlah manusia yang tidak pernah melakukan perbuatan dosa dan kesalahan. Manusia yang baik adalah manusia yang penuh dosa dan banyak berbuat salah namun bersedia memperbaiki semua kesalahan tersebut semaksimal mungkin. Jilbab dan simbol-simbol keagamaan yang dikenakan seseorang hendaknya dijadikan sebagai bagian dari motivasi untuk memperbaiki dirinya. "Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami mendengar (seruan) yang menyeru kepada iman, (yaitu): "Berimanlah kamu kepada Tuhanmu"; maka kamipun beriman. Ya Tuhan kami, ampunilah bagi kami dosa-dosa kami dan hapuskanlah dari kami kesalahan-kesalahan kami, dan wafatkanlah kami beserta orang-orang yang berbakti" [QS. Ali Imran: 193].


Semoga bermanfaat


Related Links

Jilbab Lebih Menjaga Dirimu


Kebebasan Wanita Jilid 1

Tuntunan Bertaubat kepada Allah SWT
Posting Komentar